KARENA HANYA MELIHATMU TERSENYUM SAJA, ITU SUDAH CUKUP
Cinta, apakah kau yakin dengan cinta? Apakah cinta yang kamu rasakan
saat ini adalah cinta yang sebenarnya? Apakah cinta itu akan terus
menjadi cintamu untuk selamanya?
Apakah cinta tak pernah membuatmu terjatuh? Jika ia...
"brak!!" suara tabrakan yang membuat langkahku terhenti. "aduh.. Maaf,
maaf, aku nggak sengaja.." kata seorang perempuan yang terjatuh karena
menabrakku tadi. "oh, nggak apa-apa kok. Kamu baik-baik saja kan? Sini,
biar aku bantu" ucapku. "makasih.." kata si perempuan itu sambil
menerima uluran tanganku.
Sesaat setelah berdiri dan kembali rapi, perempuan itu langsung saja
berlalu dan mulai mempercepat langkahnya. Aku terdiam sejenak,
memikirkan apa yang baru saja terjadi, mengingat-ingat kembali sosok
perempuan itu. Ingin ku kejar, tapi.. "hey!! Buruan! ini jamnya pak
Bambang loh.." suara dari belakang memanggilku. "oh, elu man, ayo.."
jawabku.
Bel pulang telah berdering, gerbang sekolah ramai dipenuhi dengan siswa siswi yang ingin pulang..
Tapi pandanganku tak berpaling lagi setelah ku lihat seorang wanita sedang terdiam manis di depan gerbang. "wah, betul kata Iman. Kau memang cantik" batinku. Perempuan yang berdiri itu adalah perempuan yang menabrakku tadi pagi di gerbang sekolah. Ingin ku hampiri, hanya untuk sekedar kenalan.. Tapi, baru saja ku memulai langkah, ia telah di jabat duluan oleh orang lain, dan ternyata orang itu adalah Iman teman dekatku sendiri. "duh, katanya kalau mau kenalan harus barengan, barengan apaan kalau kayak gini?" batinku. Terpaksa keinginan untuk berkenalan dengannya harus ku tahan dulu, ini bukan waktu yang tepat menurutku..
Sesampai di rumah, otakku masih saja memikirkan siapa sebenarnya wanita itu, apakah anak baru? Atau hanya aku saja yang baru melihatnya? "cewek itu, namanya.. siapa yah?" batinku. Rasa penasaranku semakin menjadi-jadi. Di kamar kesayangan, ku coba mengingat-ingat kembali paras wajahnya.. Sungguh, dia memang menawan. Kulitnya yang putih, rambutnya yang lurus terurai, matanya yang indah, apalagi jika ditambah dengan ekspresi panik seperti tadi.. Kau semakin cantik. Ada getaran aneh jika memikirkannya. Padahal baru ketemu.. Perasaan apa ini? Cinta? Ini tidak mungkin cinta, tak secepat ini untuk jatuh cinta..
Hari telah berganti lagi. seperti biasanya, ke sekolah..
Aku adalah siswa di salah satu SMA di ibu kota, namaku Adli. Sekarang aku duduk di bangku kelas XI dengan umur 17 tahun, dan bicara tentang hobi, aku lebih senang dengan hal-hal yang berbau musik dan seni..
Di sekolah, suasana masih seperti biasanya, pak satpam yang menjaga di gerbang sekolah, kepala sekolah yang selalu setia mengelilingi setiap sudut sekolah, dan para wali kelas yang sibuk mengkordinir anak muridnya.. Tapi, ada satu yang beda.. Entah kenapa di pagi ini ada panggung kecil di tengah lapangan, dan di sana telah banyak orang yang berkumpul. Dentingan suara mic mulai terdengar dari speaker, dan setelah itu terdengar suara alunan gitar acoustic yang dibarengi dengan suara yang lembut. "you know all the things i said, you know all the things that we have down, and the things i gave to you.." lagu ten2five yang mengalun indah, memenuhi seluruh lapangan sekolah. Terdengar enak dan merdu di telinga. Rasa penasaran mulai menyerang pikiranku, ku perdekat langkah ke panggung. Ingin ku lihat siapa yang menyanyi semerdu itu. Langkahku semakin dekat, dan dekat.. Sehingga bisa ku lihat jelas siapa yang bernyanyi di panggung itu. "itu kan cewek yang kemarin?" tanyaku di dalam hati.
Tiba-tiba, suara lembut dari belakang memecahkan obrolanku dengan Iyan. "Iyan, makasih yah atas sarannya? Mudah-mudahan, setelah ini akan makin banyak yang ikut ekskul nanti"."eh, Siska.. Iya, sama-sama" jawab Iyan. Sambil menunjuk ke arahku, Siska berkata.. "ngg.. Kamu yang waktu itu kan? Yang aku tabrak kemarin? Aduh.. Maaf, aku terburu-buru soalnya.."."eh, iya. Nggak papa kok". Jawabku dengan sedikit grogi. "kenalin, namaku Siska .." kata Siska spontan sambil memberi uluran tangannya yang dibarengi dengan senyum yang indah. "aku Adli, sudah tahu kok dari Iman.." responku sambil membalas uluran tangannya. "Hehe.. Kalian sahabatan yah? Atau lebih dari sahabat?" canda Siska . Belum sempat aku menjawab, Iman langsung saja menerobos. "bener banget! Kita sering tidur bareng malah"."wah, klop banget! Kalian pasangan yang fenomenal. Hehe.." canda Siska lagi. "eh, nggak kok. Gue masih normal. Iyan aja tuh yang sering banget nyolek pantat sesama jenisnya kalau di kelas. Bela ku yang tak ingin membuat Siska menjadi ilfeel. "iya deh.. Percaya percaya.. Eh, aku duluan yah? Kayaknya banyak yang minat tuh. Daah..?" kata Siska sambil meninggalkan kerumunan penonton. "daah.." balas kami secara serentak."gile lu! Ngapain pake bongkar kartu segala?" kesal Iman kepadaku. "yang buka kartu duluan siapa? Kamu kan? Dasar lo bocah mesum!". Ejekku kepada Iman dan berlalu meninggalkan lapangan menuju ke kelas.
Sungguh, Siska memang cantik.. Dia berbeda, tak ada yang seperti dia di sekolah.. Humoris, supel, dan baik.. Wanita Idaman para pria.. Mungkin, aku memang telah jatuh cinta kepadanya..
Sudah seminggu setelah hari kenalan ku dengan Siska . Dan karena kami satu angkatan, kami selalu berbagi dan sharing tentang pelajaran sekolah kami.. Tak ku sia-siakan kesempatan ini. ini adalah ajang yang tepat untuk mengenal Siska lebih jauh, dan untuk mencari tahu apakah dia memang juga memiliki rasa terhadapku.
"Dli, lo suka sama Siska yah?" tanya Iman di sela-sela jam pelajaran. "suka? Nggak lah.. Terlalu cepat untuk suka Yan, apalagi minat buat di jadiin pacar.." Sangkalku."yang bener lo?" tanya Iman. "yang bener lah.." sangkal ku lagi.
Rasa ini tak akan ku umbar kecuali jika Siska juga merasakan hal yang sama.. Sedangkan yang ku lihat saat ini Siska tidak begitu memberi sinyal-sinyal yang sangat nyata..
Untuk yang kesekian kalinya, aku dan Siska bertemu lagi di jam istirahat sekolah dan biasanya ngobrol dulu. Kami mulai sedikit akrab, sehingga Siska juga sudah sering bercanda dan mulai bertanya tentang urusan pribadiku.
"eh, Adli. Kamu kok ngomongnya cuma sama aku doang? Aku nggak pernah tuh lihat kamu ngomong akrab dengan cewek yang lain. Pacar kamu mana?" sungguh, pertanyaan Siska yang satu ini membuatku semakin berharap.. "ngg.. Nggak kok, aku biasa juga sih ngobrol sama yang lain. Tapi nggak ada yang senyambung kamu. Hehe.." jawabku dengan sedikit memuji. "bisa aja kamu.."
ku mulai langkah awalku, aku akan berkonsultasi kepada Iman dan meminta sarannya..
Baru ku mulai mencari Iman, tiba-tiba dia langsung saja muncul dengan ekspresi yang sangat ceria. "Adli, gue punya kabar gembira bro.." ucap Iman. "ee.. Gue juga punya kali.." ucap ku juga yang ingin duluan ngomong. "alah.. Pokoknya gue dulu. Dan kabar baiknya adalah gue jadian sama Siska bro.. Gue nggak nyangka banget. Ternyata PDKT dan pengorbanan ku selama ini nggak sia-sia bro.. Gila! Keren nggak tuh? Di taman gue nembak dia di depan teman-teman sekelasnya. Dan langsung di terima bro.. Eh, lo tadi mau ngomong apa? Cepetan! Habis ini langsung gue traktir lo makan sepuasnya di kantin." jelas Iman, yang ternyata telah jadian dengan Siska. "wah, keren bro! selamat yah!" responku. "makasih bro.. Nah, sekarang giliran lo yang cerita." pinta Iman. "eh, nggak jadi bro. Jam ekskul udah selesai. Gue ke kekelas duluan yah?". Alasanku ke Iyan. "yah, nggak asik lo, trus traktirannya?" tanya Iyan lagi. "kapan-kapan aja yah? Gue duluan. Daah?" jawabku dan berlalu meninggalkan Iman dengan perasaan yang sangat rapuh.
Sungguh, ini mungkin egois. Tapi sangat sedih terasa jika mengingat kembali pengakuan dari Iman. Aku suka Siska , dan Iman telah menjadi pacarnya Siska .. Apa yang harus ku lakukan? Mengatakan perasaanku kepada Siska ? Tapi Siska telah menjadi milik orang lain..
Sesampai di rumah, yang ku lakukan hanyalah pasrah.. Pasrah atas cintaku yang telah pergi..
Seandainya jika aku jujur terhadap Iyan tentang perasaanku yang sebenarnya kepada Siska , mungkin nasibku tak akan semalang ini..
Kini, hari-hari ku lebih banyak dipenuhi dengan kemesraan antara Adli dan Siska .. Sakit memang, tetapi aku akan tetap tegar dan bertahan..
Siska , tak apa jika aku bukan milikmu.. Tak apa jika bukan aku yang selalu menemani hari-harimu.. Dan tak apa pula jika bukan aku yang selalu membuatmu tersenyum..
Aku rela tidak menjadi milikmu, aku rela tidak bisa selalu berada di sampingmu..
Karena, hanya melihatmu tersenyum saja.. Itu sudah cukup..
berbahagialah selalu, Siska...

0 comments