Arti Hadirmu
Tak ada angin, tak ada hujan, tiba-tiba saja sosok seorang wanita
hadir di bunga tidurnya. Datang berjalan perlahan dari kejauhan kemudian
mengucap salam, “Hai, apa kabar? Lama ya kita tidak bertemu. Masih
ingat aku?”.
Laksana petir menyambar relung hati terdalam, sang pemuda hanya bisa
diam terpaku melihat wanita itu tersenyum kepadanya. Tak mampu berucap
meski sepatah kata. Sungguh jiwanya berontak, ia tak tahu-menahu
ekspresi apa yang cocok untuk diungkapkan. Apakah rindu, benci, sakit
hati, harapan atau keputusasaan.
Setengah mati ia berusaha memuntahkan sebuah kata untuk membalas
sapaan wanita berparas ayu tersebut. Namun usaha itu tampaknya sia-sia.
Sang pemuda memberanikan diri melangkahkan kakinya mendekati wanita
pujaan hatinya itu. Berupaya menyentuh pipi kanan dengan telapak tangan
kanannya. “Benarkah ini kau, wahai kekasihku?” tanyanya hampir pingsan.
“Iya, benar, ini aku. Tidakkah kau rindu denganku?” tanya wanita itu
lirih penuh kasih sayang.
“Kenapa kau kembali lagi ke hadapanku? Tak tahukah kau betapa
sulitnya melupakan dirimu selama ini? Kenapa kau tega melakukan ini
semua?” sang pemuda terisak, sudut matanya terasa panas, bercucuran air
mata.
“Aku tahu betapa sakitnya dirimu selama ini, wahai kekasihku.
Sungguh. Aku pun merasakan hal yang sama dengan dirimu. Bagaimana
kabarmu selama ini? Tidakkah kau rindu kepadaku?” tak sedetik pun wanita
itu menghapus senyumnya. Sebuah senyuman yang tulus, mampu
meluluhlantakan batu sekeras apapun di dunia ini.
“Sedetik pun aku tak pernah melupakanmu, kekasihku” jawab sang pemuda
mengenyahkan air mata bahagianya dan ia sambut tubuh wanita itu penuh
haru ke dalam dekapannya.
“Jangalah kau bersedih” ujar wanita bergaun putih, ia tampak sangat anggun layaknya bidadari.
“Aku tak bersedih. Aku hanya rindu. Benar-benar rindu kepadamu!” ucap sang pemuda. Air mata harunya tak kunjung surut.
“Aku tahu” jawab wanita itu halus. “Meski saat ini aku telah milik
orang lain, aku ingin kau tahu bahwa aku selalu ada di hatimu yang
paling dalam. Jangan lah kau lupa akan hal itu. Kau adalah cinta
pertamaku dan takkan ada pria lain yang dapat menggantikan dirimu.
Ingatlah akan itu.”
Perlahan, dekapan itu terasa hampa. Wanita tersebut telah pergi
meninggalkan sang pemuda dalam kesendirian. Ia lantas bertekuk lutut
merasakan betapa sakit hatinya kembali ditinggalkan. Mengoyak seluruh
jiwa dan raga.
Meski terasa sakit tiada tara, ia masih memiliki secercah kebahagiaan
di lubuk hatinya. Secuil ruang yang takkan pernah terganti dan terhapus
oleh wanita manapun selain sang pujaan hatinya itu.
Category: Cerpen, Entertainment, Inspirasi, lifestyle, Pria, Wanita

0 comments